Artikel | STIE Muhammadiyah Cilacap - Part 2 | STIE Muhammadiyah Cilacap | Page 2

Category Archives: Artikel

Menguatkan Rasa Cinta terhadap Al-Qur’an (Bagian 3)

Kembali ke Bagian 2

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Berikutnya, khatib sampaikan bahwa meraih manfaat dari Al-Qur’an dengan segala keberkahannya tentunya susah didapatkan jika kita tidak mau untuk membaca dan menggali makna-maknanya (menuntut ilmu) dengan baik. Sedangkan ilmu haruslah diraih dengan kesungguhan. Sebab, menuntut ilmu hakekatnya juga pelaksanaan dari salah satu perintah-Nya yang wajib dan bahkan dapat memudahkannya untuk masuk pada jannah-Nya yang tinggi. Hadis Rasulullah shallu’alaih menjelaskan hal ini dengan pernyataan beliau shallu’alaih,

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim (muslimin ataupun muslimah)” (HR. Ibnu Majah).
Selanjutnya, dinyatakan pula oleh beliau shallu’alaih,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).

Sebagai penegasan, hadirin jamaah shalat ‘Idul Fithri yang berbahagia. Dua hadis tersebut menyebutkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang wajib dituntut oleh setiap muslim tanpa terkecuali. Sedangkan sebaik-baik ilmu yang dipelajari adalah segala sesuatu yang bersumber atau dirujukkan pada Al-Qur’an. Rasulullah, Muhammad shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

خيركم من تعلّم القرآن و علّمه

“Orang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).

Demikian, jamaah, sebaik-baik kita adalah yang mempelajari Al-Qur’an. Ia adalah alat penimbang segala sesuatu. Bahkan termasuk di dalamnya menjadi penimbang segala ilmu yang dikembangkan oleh akal manusia dimuka bumi ini. Oleh karenanya, segala sesuatu akan menemukan relevansi kebenarannya manakala temuan-temuan atau prinsip-prinsip pengetahuan yang dikembangkan manusia tersebut, berbanding lurus (sesuai) dengan apa-apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an. Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak sejalan dengannya tentu tidak mendapatkan persetujuan Allah Ta’ala.

الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang semoga dilapangkan rizkinya oleh Allah Ta’ala,
Sebagai bagian akhir dari khutbah kali ini, khatib ingin mengetengahkan hadis rasul-Nya yang mulia, sebagai peneguh bagi iman kita, bahwa kemuliaan kita hanya bisa kita raih manakala kita mau bersanding dengan Al-Qur’an. Rasulullah Muhammad shallu’alaih bersabda,

ما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله تعالى يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلّا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده

“Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu masjid diantara masjid-masjid Allah, mereka membaca kitabullah serta saling mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan rahmat serta diliputi oleh para malaikat. Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan para malaikat” (HR. Muslim).

Jamaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Hadis tersebut oleh para ulama dikenal dengan istilah hadis arba’ li arba’ atau hadis, empat perkara yang mendatangkan empat perkara. Padahal kesemuanya hanyalah berpusat pada aktivitas kita dalam bercengkrama dengan Al-Qur’an. Empat aktivitas pertama itu adalah: Berkumpul; di Masjid; Membaca Al-Qur’an; Mempelajari Al-Qur’an.

Selanjutnya, secara singkat, mari kita melihat karunia besar dari Allah Ta’ala yang akan didapatkan sekelompok orang, jika mereka bercengkrama dengan Al-Qur’an. Pertama, orang-orang tersebut akan mendapatkan ketenangan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kedua, mereka akan mendapatkan rahmat atau kasih sayang dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Jamaah yang berbahagia, jiwa yang tenang sejatinya adalah modal berharga mengarungi kehidupan ini menuju kebahagiaan sejati. Apalagi jika ketenangan itu muncul bersamaan karunia lain yang berupa rahmat atau kasih sayang Allah Ta’ala serta karunia keimanan yang dalam kepada-Nya.

Ketiga, mereka diliputi oleh para malaikat. Dan yang keempat, mereka disebut-sebut namanya oleh Allah Ta’ala di hadapan para malaikat-Nya. Dua hal ini, seharusnya membuat kita bergetar hatinya, jamaah. Sebab, tidak gampang untuk mencari perhatian Allah Ta’ala. Apalagi sampai Allah Subhanahu Wata’ala mau menyebut-nyebut nama kita. Sebuah penghargaan terbaik yang tidak akan pernah ada yang menandinginya.

Pada sisi lainnya, malaikat-malaikat Allah Ta’ala meliputi orang-orang tersebut. Dalam kaitan ini, khatib menjadi ingat ada penggalan sebuah hadis yang menguatkan pernyataan dalam hadis tersebut. Rasulullah shallu’alaih bersabda,

إنّ الملا ئكة لتضع أجنحتها رضا لطالب العلم

“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayap mereka sebagai bentuk keridhaan terhadap penuntut ilmu” (HR. Abu Dawud).

Jamaah yang berbahagia, salah satu makna yang khatib ketahui dari kalimat malaikat meletakkan sayap-sayapnya adalah, mereka berhenti terbang. Ya! Jamaah yang berbahagia, malaikat-malaikat yang sering disebut sebagai malaikat “pengembara” tersebut berhenti terbang, kemudian memanggil teman-temannya dan turun untuk mendoakan sekelompok orang yang berada dibawahnya dan sedang “bercengkrama” (tilawah dan tadarus) dengan Al-Qur’an.

الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Menutup khatbah kali ini, khatib sampaikan doa khusus kepada Allah Subhanahu Wata’ala, semoga kita dikaruniakan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Dan semoga karena kecintaan kita kepada kalam-Nya tersebut menjadikan kita orang-orang yang dimudahkan kehidupannya dalam mengarungi berbagai ujian dimuka bumi ini, serta mengumpulkan kita semua di jannah-Nya yang tinggi, yakni jannah Al-Firdaus, amin.

اللهم صل وسلّم و بارك على محمّد و على آله و أصحابه و من تبعه باءحسان إلى يوم القيامة
اللهمّ اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الاءحياء منهم و الاءموات إنّك سميع قريب مجيب الدّعوات

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٲنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِى قُلُوبِنَا غِلاًّ۬ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٲجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٍ۬ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرً۬ا كَمَا حَمَلۡتَهُ ۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا‌ۚ
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ‌ۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ‌ۚ أَنتَ مَوۡلَٮٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

ربّنا تقبّل منّاإنّك أنت السّميع العليم وتب علينا إنّك أنت التّوّب الرّحيم

عباد الله إنّ الله ياءمر بالعدل و الاءحسان و إيتاء ذي القربي و ينهى عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلّكم تذكّرون

فاذكروا الله يذ كركم واشكروا على نعمه يزدكم و لذكرالله أكبر

(Download Khutbah Idul Fitri 1435 H.pdf)

Menguatkan Rasa Cinta terhadap Al-Qur’an (Bagian 2)

Kembali ke Bagian 1

الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang insya Allah senantiasa dilindungi-Nya,
Kemudian, jamaah yang berbahagia, selain merasakan kebahagiaan dalam suasana ‘Idul Fithri yang agung pada hari ini, sebenarnya pada sisi yang lain dari diri kita juga merasakan kesedihan yang mendalam, yakni kita telah ditinggalkan oleh bulan Ramadhan yang penuh berkah dan kemuliaan itu. Apalagi ditambah demikian banyaknya problematika yang menimpa umat Islam di seluruh dunia ini (do’a tulus kami haturkan, semoga Allah Ta’ala menerima puasa dan amalan lainnya yang telah jamaah dan umat Islam semuanya lakukan pada bulan kemulyaan tersebut, serta mengumpulkan kita di jannah-Nya kelak, amin).

Tetapi, jamaah yang berbahagia, jangan sampai Ramadhan yang begitu istimewa tersebut meninggalkan kita tanpa kesan sama sekali. Bukankah kita telah diajarkan banyak hal pada bulan tersebut. Terutama pelajaran bahwa hakekat kita hidup dan beramal di dunia ini hanya terarah pada satu visi saja, yakni pengabdian yang total dan menyeluruh hanya kepada Allah Ta’ala semata (Adz-Dzariat/51: 56).

Bulan Ramadhan telah menempa kita dengan banyaknya amalan-amalan ibadah, yang biasanya secara kuantitas atau kualitas kurang menjadi perhatian kita. Di bulan tersebut, jamaah yang berbahagia, kita tiba-tiba menjadi mampu melakukannya bahkan dengan kadar yang dapat dikatakan sulit untuk dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Beberapa contohnya antara lain: shalat wajib yang menjadi rajin berjamaah; qiyamullail setiap hari; sikap dermawan yang semakin meningkat; puasa terus menerus sebulan penuh; menghadiri atau mendengarkan pengajian setiap hari; menjaga lisan-pandangan dan anggota tubuh yang lain dari yang diharamkan-Nya; berdzikir dengan kalimat thayyibah setiap saat serta masih banyak amalan lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini, termasuk amalan yang akan menjadi nasehat pokok dalam khutbah kali ini, yakni tilawah atau tadabbur Al-Qur’an.

الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang semoga dilapangkan rizkinya oleh Allah Ta’ala,
Al-Qur’an, beserta Al-Hadis tentunya, merupakan satu-satunya pedoman yang dapat membuat kita hidup berbahagia, baik di dunia ini terlebih di akhirat nantinya. Oleh karenanya, khatib melalui nasehat dalam khutbah kali ini ingin menekankan kepada jamaah semuanya, termasuk terhadap diri khatib sendiri, bahwa bercengkrama dengan Al-Qur’an haruslah menjadi kebiasaan kita sehari-hari, supaya ia dapat menjadi pelita kita dalam mengarungi hidup ini. Bukan bisikan setan (Fatir/35: 6), dorongan hawa nafsu (Yusuf/12: 53) dan (atau) tradisi orang kebanyakan yang tidak memiliki dasar syar’inya (Al-An’am/6: 116).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ajakan khatib kali ini, yakni untuk mempertahankan kedekatan dengan Al-Qur’an bukan tanpa dasar sama sekali. Bahkan Allah Ta’ala sendiri telah mengemukakan hal ini. Dalam Al-Qur’an yang mulia Ia menegaskan hanya Kalam-Nya saja yang dapat menjadi pedoman dengan penetapan sebagai berikut,

إِنَّ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَہۡدِى لِلَّتِى هِىَ أَقۡوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرً۬ا كَبِيرً۬ا (٩

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Israa’/17: 9).

Demikian jamaah yang berbahagia, Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa satu-satunya yang dibenarkan dihadapan-Nya untuk menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupan dunia ini hanyalah Firman-Nya, yakni Al-Qur’an. Ia telah dijadikan oleh-Nya untuk menjadi petunjuk kepada cahaya yang hakiki dan kehidupan yang hakiki pula.

Ya! Jamaah yang berbahagia. Allah Ta’ala telah menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai cahaya dan ruh (sumber kehidupan) dalam melalui perjalanan kehidupan di muka bumi ini. Dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syuura (42) ayat ke-52 Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan dengan kalimat-Nya,

وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا‌ۚ وَإِنَّكَ لَتَہۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (٥٢

“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Jamaah yang berbahagia, ayat tersebut juga menjadi bukti bahwa setiap manusia yang tidak mau berdekatan dengan Al-Qur’an serta menjadikannya pedoman bagi kehidupannya akan berjalan di muka bumi ini dengan gontai dan sesat. Bayangkan saja, seseorang mengarungi kehidupan yang keras ini tanpa ruh dan cahaya petunjuk. Bagaikan, maaf, mayat hidup yang berjalan ditengah kegelapan yang pekat tanpa setitik cahaya sedikitpun berada di tangannya.

Rasulullah Muhammad shallu’alaih juga menegaskan tentang fungsi Al-Qur’an sebagai satu-satunya petunjuk menuju jalan yang lurus tersebut sebagaimana yang terdapat dalam sabdanya,

تركت فيكم أمرين لن تضلّوا ما تمسّكتم بهما كتاب الله و سنة نبيّه

“Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya” (HR. Malik).

Oleh karenanya, jamaah shalat ‘Idul Fithri yang dimuliakan Allah Ta’ala. Mari kita tingkatkan lagi kedekatan kita dengan senantiasa bercengkrama dengan Al-Qur’an yang mulia. Carilah jawaban seluruh problematika kehidupan kita di dalamnya. Agar kehidupan kita diberkahi dan senantiasa lurus jalannya. Tekunkan diri kita dengan seluruh aktivitas yang dituntunkan oleh syari’ah terhadap Al-Qur’an. Mulai dari membaca, memahami isinya, menyimak penjelasan para ahli Al-Qur’an, mengahafalkan lafadz-lafadznya, sampai berusaha mewujudkan kandungan-kandungannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk tertinggi dari aktivitas bercengkrama dengan Al-Qur’an.

Insya Allah, dengan menekunkan diri dalam aktivitas yang demikian kita akan mendapatkan keberkahan yang berlimpah ruah. Sebab, siapapun yang berdekatan dengannya akan diberikan kemuliaan yang besar sebagai balasannya. Sebaliknya, siapapun yang menjauhinya, hanya kehinaan yang menyedihkan yang akan didapatnya. Mengenai hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنّ الله يرفع بهذا الكتاب أقواما و يضع به آخرين

“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seseorang dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan seseorang yang lainnya dengannya pula” (HR. Muslim).

Demikian jamaah, betapa mulianya Al-Qur’an, sehingga segala sesuatu yang disandingkan dengannya akan menjadi mulia juga. Contohnya, jamaah yang berbahagia: Bulan Ramadlan menjadi bulan spesial yang penuh keberkahan disebabkan pada bulan tersebutlah Al-Qur’an Al-Karim diturunkan; Malam lailatul qadar disebut sebagai malam kemuliaan disebabkan pada malam itulah Al-Qur’an, lebih tepatnya diturunkan; Malaikat jibril menjadi malaikat yang paling mulia juga disebabkan dialah yang menyampaikan Al-Qur’an pada nabi pilihan-Nya yaitu nabi Muhammad shallu’alaih; Bahkan kita juga menyaksikan dua buah kota istimewa yakni kota makkah dan madinah menjadi mulia karena disanalah kota diturunkannya Al-Qur’an. Para sahabat pun sebenarnya menjadi mulia juga disebabkan pengagungannya yang demikian tinggi terhadap Al-Qur’an hingga mencapai kadar yang susah ditandingi semangatnya.

Untuk lebih memperkuat lagi argumen tersebut, yakni bahwa seseorang yang ingin meraih kemuliaan disisi Allah Ta’ala hanya bisa diraih dengan berdekatan kepada Al-Qur’an, khatib bawakan satu hadis lagi untuk mendukung penjelasannya. Rasulullah shallu’alaih bersabda yang maknanya,

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah, harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah korma, tidak beraroma tapi manis rasanya. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti buah raihanah, enak baunya tapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah handzalah, tidak beraroma dan pahit rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan secara tersirat bahwa, bagi siapapun seorang muslim yang membaca ayat-ayat-Nya akan mendapatkan derajat yang tinggi dimata Allah Ta’ala. Belum lagi jika kita berusaha memahami dan mengamalkan kandungan dari ayat-ayat-Nya tersebut. Tentu akan semakin bertambah kemuliaan diri kita dimata Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah semestinya setiap orang yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya hidupnya tidak akan terlunta dan dibiarkan terseok dalam kesusahan hidup, insya Allah.

Lanjut Ke Bagian 3

Menguatkan Rasa Cinta terhadap Al-Qur’an (Bagian 1)

(Khutbah ‘Idul Fithri)
Oleh
Muh. Azhar Syafrudin
(STIE Muhammadiyah Cilacap)

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
idul fithri .jpg
الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji serta syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita, sehingga pada pagi hari yang berbahagia ini, izin dari-Nya diturunkan pada kita. Udara yang segar, hempasan angin basah yang sepoi-sepoi, menembus tulang belulang hingga menusuk sumsum kita, terasa semakin menambah kedamaian suasana ‘Idul Fithri kali ini. Peristiwa alam seperti apapun adalah kehendak-Nya, yang tidak terdapat kesia-siaan padanya. Termasuk didalamnya dengan penciptaan alam beserta seluruh isinya.

Bahkan, seandainya jika direnungi lebih dalam, justru hal ini dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wata’ala buat manusia seluruhnya. Yakni, bagi orang-orang yang mau memikirkannya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya yang terdapat dalam surat Ali-‘Imran (3) ayat 190 dan 191, Ibrahim (14): 32 dan Al-Qamar (54): 49. Misalkan seperti yang terdapat dalam surat Ali-‘Imran ayat 190-191 tersebut yang menjelaskan,

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ(١٩١

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Berikutnya, jamaah shalat ‘Idul Fithri yang berbahagia, kita juga sudah seharusnya menyadari bahwa sejatinya Allah Subhanahu Wata’ala telah mencurahkan kasih sayang-Nya dengan berlimpah kepada kita. Kasih sayang yang berwujud berbagai nikmat tersebut terhampar luas dari setiap apa yang ada dan menjadi bagian dari kehidupan kita, mulai dari yang sifatnya fisik (jism/ jawarih) sampai yang sifatnya non fisik (ruhani). Kemampuan fisik seperti beraktifitas, menghirup udara dan kesehatan diri merupakan contoh nikmat-Nya dari sisi fisik kita. Sedangkan dari sisi spiritual diantaranya adalah kemampuan memikirkan sesuatu atau berkontemplasi serta, terutama, nikmat beriman kepada-Nya sebagai nikmat yang paling sempurna.

Ya! Jamaah yang berbahagia, sesungguhnya tanpa iman yang Allah Ta’ala karuniakan kepada kita, seluruh nikmat yang ada menjadi tidak berarti sama sekali. Sebab, dialah yang menjadi penentu kebahagiaan kita di dunia ataupun (terutama) diakhirat nanti, insya Allah. Imanlah yang menjadi pembeda dari setiap manusia. Dengannya kita menjadi tahu perbedaan antara yang haq (benar) dan bathil (salah), antara jalan lurus yang diridlai-Nya dan jalan sesat yang dimurkai-Nya. Dengan itu pulalah, jamaah ‘Idul Fithri yang berbahagia, Allah Ta’ala memberikan perbedaaan kedudukan kepada hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an dengan nada bertanya menyebutkan dengan gamblang mengenai pernyataan ini:

أَفَمَن يَمۡشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦۤ أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (٢٢

“Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus” (Al-Mulk/67:22).

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang insya Allah disayangi-Nya,
Hanya saja jamaah, sebagai manusia kita sering lupa terhadap beragam nikmat dan karunia Allah Ta’ala tersebut, sehingga kita senantiasa mengeluh dengan problematika kehidupan kita. Keadaan ini sering menghinggapi kita baik secara sadar ataupun tidak sadar. Allah Subhanahu Wata’ala sendiri juga mengemukakan hal ini, yakni sifat mengeluh merupakan tabiat dasar kita sebagai seorang manusia. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’aarij (70) ayat 19-20, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعً۬ا (٢٠ ۞

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”

Padahal jika kita melihat ketentuannya-Nya juga, setiap manusia pasti akan merasakan ujian ataupun cobaan dalam mengarungi kehidupannya di dunia yang fana ini. Tetapi ujian tersebut, Jamaah yang berbahagia, jika dibandingkan dengan berbagai nikmat-Nya hanyalah sedikit saja. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang menjadi penegas akan hal ini,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah/ 2: 155).

Oleh karenanya, marilah kita menjadi seorang muslim yang senantiasa menyadari bahwa nikmat dari Allah Ta’ala hakekatnya sangat banyak. Sehingga, begitu banyak nikmat-Nya tersebut, seorang manusia tidak akan sanggup menghitungnya. Al-Qur’an surat An-Nahl (16) ayat ke-18 memberikan penjelasan:


وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (١٨

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jamaah yang berbahagia. Jika kita memikirkan ayat yang telah disebutkan, seharusnya kita juga semakin sadar bahwa, segala kelebihan dan kemudahan yang kita rasakan sekarang tidak lain hanya dikarenakan kasih sayang-Nya yang begitu melimpah. Tanpa santunan dari Allah Ta’ala, manusia tidak mungkin mampu untuk bertahan hidup. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mengenai hal ini dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl/ 16 ayat ke-53 yang menyebutkan:


وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ (٥٣

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Demikian, penegasan Allah Subhanahu Wata’ala tersebut dengan gamblang menunjukkan bahwa segala yang menjadi milik kita, beserta segala kemudahan yang sedang kita rasakan hanyalah dari Allah Ta’ala. Selanjutnya, apabila kita merasakan kesulitan dalam mengarungi kehidupan, kita juga memohon kepada-Nya untuk diberikan kemudahan dan keluar dari kesulitan itu.

Lanjut Ke Bagian 2

Menjadi Pemeluk Islam yang Pasrah

Oleh : Muh. Azhar Syafrudin

Kata “Islam”, sejatinya secara generik dapat memiliki beberapa arti. Diantara makna-makna tersebut yang diambil dari berbagai perubahannya dalam bahasa Arab adalah; Pertama, Islam memiliki makna selamat atau sentosa. Sehingga, para pemeluknya yang setia terhadapnya akan selamat apabila melalui jalan ini. Kedua, Islam dapat juga bermakna damai atau ketentraman. Ketiga, Islam dapat juga bermakna tangga, jenjang, atau tingkat. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap orang yang melalui Islam memiliki jenjang spiritualitas yang berbeda. Keempat, Islam bermakna tunduk, patuh atau pasrah secara total. Sehingga orang yang memeluk Islam berarti harus siap merdeka dari apapun kecuali terhadap Rab-nya ta’ala (lihat berbagai kamus bahasa Arab, termasuk al-Munawwir, 1997).

Sedangkan secara istilah, Islam biasanya diberi makna, jalan untuk kebaikan dan keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Ia merupakan satu-satunya kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wassalam, yang didalamnya berisi perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk. Kesemuanya itu terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih (Majelis Tarjih Muhammadiyah, 1967).

Secara khusus, kata Islam biasanya digandengkan dengan kata ad-Din (baca Addin). Kamus al-Munawwir (1997), yang dianggap kamus Bahasa Arab-Indonesia terlengkap saat sekarang, memberikan makna Addin dan derivasinya, diantaranya sebagai berikut; Hutang-piutang, maut atau kematian, agama atau kepercayaan, aturan, undang-undang, tingkah laku adat kebiasaan, dsb.

Menurut al-Ma’luf, sebagaimana dikutip Syamsul Hidayat (1998), mengatakan, jika dilihat dari asalnya kata Addin merupakan masdar (kata dasar) dari kata kerja dana-yadinu, jamaknya al-adyan. Namun kata kerja ini juga memiliki masdar yang lain, yaitu al-dayn. Secara etimologi atau kebahasaan, kata ini memiliki beberapa arti, diantaranya, hutang, perhitungan, pembalasan, atau imbalan, tha’at, agama, adat istiadat serta jalan hidup.

Dengan pengertian-pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan, kalimat Addinul Islam dapat dimaknai bahwa agama Islam adalah agama yang dapat membawa kedamaian dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Tentunya, tingkat kedamaian dan keselamatan masing-masing pemeluknya berbeda satu sama lain. Ukuran tingkatan atau jenjang-jenjang tersebut dapat diukur secara kualitatif berdasarkan tingkat kepasrahan yang dimiliki oleh masing-masing pemeluknya.

Kepasrahan yang dimaksud adalah perasaan yang paling dalam dari diri manusia terhadap Tuhannya (Allah Subhanahu Wata’ala) yang Maha Menguasai dirinya. Sehingga, ia sebagai muslim sejati, merasakan kehadiran Rabnya serta selalu dalam setiap saat hidupnya merasa dilingkupi Tuhannya, kemana dan dimanapun dia berada di alam ini. Ia tidak akan mungkin berani untuk secara sengaja melakukan perbuatan apapun yang menurut mata batin dan kesadarannya merupakan perlawanan dari sikap atas kepasrahan terhadap Tuhannya tersebut.

Al-Qur’an menjelaskan, “Sesungguhnya agama (yang diridloi) disisi Allah hanyalah Islam” (Q.S. Ali-‘Imran ayat 19). Kata Islam dalam ayat ini ditafsirkan oleh umat Islam sebagai agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallu’alaih. Sehingga, secara eksklusif menurut umat Islam, bahwa kebenaran yang ada sekarang hanyalah satu, yakni kebenaran Muhammad shallallahu’alaihi wassalam, satu sikap yang sudah semestinya ada sebagai dasar keimanan pada agama yang sempurna ini.

Akan tetapi, pada sisi yang lain, sebagaimana telah dijelaskan dalam perubahan-perubahan makna Islam, kata Islam dalam ayat ini dapat juga diartikan sebagai tunduk, patuh atau pasrah. Sehingga, dengan menggabungkan dengan penjelasan diatas, Allah Ta’ala dengan jelas berfirman, bahwa Ia  Ta’ala hanya merestui suatu keyakinan pada diri manusia terhadap-Nya, yakni Islam, yang keyakinan itu didasari sikap kepasrahan yang menyeluruh atau total terhadap diri-Nya.

Sukidi (2001), mengatakan, bahwa kesadaran seperti ini disebutnya sebagai kesadaran ketuhanan atau taqwa yang bersifat monoteistik (Tauhid). Ia merupakan implikasi langsung dari al-Islam itu sendiri, yang secara lughawi, sebagaimana dijelaskan diatas, dapat berarti sikap pasrah. Muhammad Asad juga berkomentar, “behold the only (true) religion in the sight of God is (man’s) self-surrender into Him”. Artinya, satu-satunya agama yang benar dalam penglihatan Tuhan adalah sikap berserah diri kepada-Nya (yakni Islam).

Pendapat kedua diatas, walau sesungguhnya dalam konteks seluruh Nabi-Nabi yang pernah diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, semakin memperkuat deskripsi, bahwa dasar agama yang dibawa oleh Muhammad shallu’alaih adalah sama dengan yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul pendahulunya, yakni sikap kepasrahan atau ketundukkan yang total pada Rabnya, Allah yang Maha Tinggi.

Lebih jelasnya lagi, dalam al-Qur’an Allah Ta’ala juga berfirman, sebagai penegasan: “Dan (aku telah diperintahkan), hadapkanlah mukamu kepada agama (itu) dengan tulus dan ikhlas, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S. Yunus ayat 105). Dengan jelas sekali ayat ini mengisyaratkan adanya makna Addin yang harus diikuti dengan ketulusan dan sikap Tauhid (Syamsul Hidayat, 1998). Sedang satu-satunya agama yang dirujuk untuk diikuti adalah kepasrahan yang total terhadap Tuhannya, yakni dalam keberIslaman yang utuh.

Dasar dari penegasan ini adalah, bahwa perasaan akan ketergantungan terhadap sesuatu yang mutlak dan merentang dalam seluruh aspek kehidupan manusia sesungguhnya merupakan fitrah dari batinnya yang terdalam. Oleh karenanya, dengan tegas Allah Ta’ala juga telah memerintahkan pada kita, sebagi pemeluk atau penganut sikap kepasrahan yang total kepada-Nya, untuk selalu menghadapkan wajah pada rasa kefitrahan tersebut. Seperti termaktub dalam al-Qur’an, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (Surat Ar Rum: 30).

Dalam keterangan al-Qur’an terjemah departemen Agama Indonesia (edisi revisi) dijelaskan, bahwa fitrah Allah Subhanahu Wata’ala maksudnya adalah ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala. Manusia diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala mempunyai naluri beragama, yaitu agama Tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama Tauhid maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama kepada Tauhid itu hanyalah disebabkan oleh pengaruh lingkungan sekitarnya.

Makna Ad-Din

Tidak hanya merujuk kepada Islam, kata Addin itu bermakna. Ia dapat juga menjelaskan agama secara umum, khususnya yang pernah diturunkan oleh-Nya Ta’ala. Beberapa kata kunci yang semakna dengan Addin yang merujuk pada sikap Tauhid dan kepasrahan, diantaranya dijelaskan oleh Syamsul Hidayat (1998), sebagai berikut;

Pertama, al-Millah. Kata ini secara bahasa merupakan masdar dari kata kerja malla-yamillu yang artinya telah lama, membosankan, memberatkan, memasukkan atau amalla-yumillu yang berarti membuat, mendikte atau menyusahkan, atau imtalla-yamtallu artinya memasuki, menganut atau memeluk. Sedangkan kata al-millah sendiri sering diartikan dengan syariat dalam agama, atau aturan bagian dari agama (asysyari’ah fii addin) atau diartikan dengan agama itu sendiri (Islam).

Kedua, al-Syari’ah atau sl-Syir’ah. Kata ini sering diartikan dengan thariqah, sabil, sunnah yang diterjemahkan dengan jalan, aturan atau tatanan hidup. Tetapi, setiap kitab yang Allah Ta’ala turunkan ke Bumi ini masing-masing telah membawa syari’ah yang berbeda satu sama lainnya. Dengan syari’ah itu manusia tahu mana yang dihalalkan Allah Ta’ala atau yang diharamkan-Nya. Namun, al-Maraghi menyimpulkan makna al-Syariah sebagai isim li al-ahkam al-‘amaliyyah yang wilayah cakupannya lebih sempit dibanding kata Addin (lebih lanjut lihat terjemahan tafsir, al-Maraghi).

Ketiga, kata Minhaj. Dalam penelitian Syamsul Hidayat (1998) kata ini hanya terdapat dalam satu tempat atau ayat saja. Yaitu surat al-Maidah ayat 48. Ia di-‘athafkan kepada kata syir’ah. Minhaj oleh Departemen agama diartikan dengan jalan yang terang. Pendapat ini sejalan dengan pandangan Zamakhsyari yang mengartikan dengan thariqan wadhihan fi al-din.

Dengan pengertian diatas, minhaj semakna dengan syari’ah, yaitu aturan atau ketetapan yang ada di dalam agama, tetapi juga dapat disejajarkan dengan makna agama itu sendiri. Namun pemaknaan minhaj dalam arti agama sangat jarang dilakukan. Demikian beberapa kata yang makna-maknanya sepadan dengan addin. Semuanya itu merujuk kepada kepasrahan seorang hamba terhadap Yang Kuasa. Maka, dapat dipahami Allah Subhanahu Wata’ala menginginkan pengabdian dan penghambaan yang total dari setiap individu pemeluk agama-Nya.

Oleh karenanya, Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi tidak memperkenankan, walau secara hak individu diperbolehkan, bagi setiap manusia mencari Addin yang bukan Islam. Kita tidak diperkenankan meyakini sebuah agama yang bukan men-Tauhid-kan dan menyerahkan diri secara bulat pada-Nya, melalui Islam.

Al-Qur’an menyebutkan, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi” (Surat Ali-‘Imran ayat 85). Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar murtad setelah masuk Islam, dan ia menyesal atas kemurtadannya. Ia minta kepada kaumnya untuk mengutus seseorang menghadap kepada Rasulullah shallu’alaih, untuk menanyakan apakah diterima tobatnya. Maka turunlah ayat tersebut diatas (sampai ayat 89), dan disampaikan oleh utusan itu kepadanya, sehingga ia kembali Islam.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Harts bin Suwaid menghadap kepada Nabi shallu’alaih, dan masuk Islam. Kemudian pulang kepada kaumnya dan keluar lagi. Maka turunlah ayat tersebut diatas (Surat Ali-‘Imran ayat 85 sampai 89). Ayat itu dibacakan kepadanya oleh salah seorang kaumnya. Maka berkata al-Harts, “Sesungguhnya engkau benar, dan Rasulullah lebih benar daripadamu, dan sesungguhnya Allah yang paling benar diantara tiga”. Kemudian ia kembali masuk Islam dan menjadi seorang Islam yang patuh (Qamaruddin Shaleh, dkk. 1996).

Dapat diduga kemurtadan yang dimaksud berada pada dua sisi, yaitu kembali melakukan penyembahan berhala atau musyrik sebagai agama nenek moyangnya, sekaligus berlepas dari (tidak pasrah) terhadap berbagai aturan yang diturunkan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai konsekuensi keberIslamannya. Hal ini melanggar fitrah ber-Dinul Islam itu sendiri.

Sebab, kata yang menggunakan huruf-huruf dal-ya’-nun, seperti dana-yadinu, din atau dain melukiskan terdapatnya hubungan diantara dua pihak yang salah satunya memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada kedudukan yang satunya. Dari sini diketahui, kata Ad-Din juga merepresentasikan hubungan antara makhluk (manusia) dengan Khaliqnya yakni Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Wujud hubungan tersebut terdapat dalam sikap batinnya (yang tulus ikhlas) serta tampak dalam ibadah yang dilakukannya serta tercermin dalam sikap hidup (perilaku) kesehariannya (M. Quraish Shihab, 1997).

Kesimpulannya, seorang Muslim (pemeluk kepasrahan dan Tauhidullah) tidak boleh “secuilpun” dari bagian dirinya, baik dalam aspek-aspek ushul (dasar) sebagai tiang Islam, seperti shalat, puasa ramadlan, dll., maupun muamalah duniawiyahnya sebagai furu’ (cabang), lepas dari sikap kepasrahan terhadap-Nya. Caranya ?

Ada dua hal yang pasti ada dalam diri setiap pemeluk Addin yang telah pasrah total terhadap Tuhan-Nya. Pertama, dia bukanlah tipe orang yang berpura-pura dalam pokok-pokok agama yang hatinya penuh dengan kepalsuan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sahalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (Q.S. An-Nisaa’ ayat 142).

Sitiran Allah Ta’ala tersebut pasti menghunjam dalam pada sanubari setiap orang Islam yang benar-benar pasrah dan tunduk pada-Nya. Ia takut seandainya Allah Ta’ala membiarkannya seolah-olah beriman, tetapi suatu saat Allah Ta’ala akan memberinya Azab. Ia juga tidak akan sudi menukarkan Ridla-Nya dengan sesuatu yang “remeh-temeh” karena keriyaannya.

Kedua, seorang muslim yang telah tunduk, patuh atau pasrah pada Titah-Nya, hati, pikiran dan lakunya tidak akan mungkin secara sengaja mengajak kedalam lembah perbuatan yang menjauhkan dari cahaya-Nya. Dalam posisi apa dan dimanapun serta dalam segala aspek hidup dan kehidupannya, baik yang kelihatannya sepele ataupun besar, selalu penuh dengan Nur Allah Ta’ala. Ia tidak akan memisahkan aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan budayanya, pendeknya seluruh aspek muamalahnya tidak terpisahkan dari hasratnya untuk menuju pada Yang Maha Kuasa, Allah Ta’ala dan agar dipenuhi oleh celupan-celupan hidayah-Nya. Wallahu a’lam bish shawab.

  • Muh. Azhar Syafrudin, S. ThI adalah Koordinator Lembaga Studi dan Pengamalan Islam dan Staff Humas di STIE Muhammadiyah Cilacap.

Perbankan Syariah Di Era Modern

Oleh : Nurul Mahmudah, SE

Perkembangan bank syariah yang semakin melaju pesat dan menjamur, merupakan suatu tanda positif bagi perkembangan dunia perbankan di Indonesia. Kondisi semacam ini menggambarkan adanya kompetisi pada sektor financial di negara berkembang, khususnya di Indonesia. Dalam praktek, pengguna layanan bank syariah bukan hanya dinikmati oleh penganut agama muslim, bahkan masyarakat non muslim pun merasa lebih nyaman dengan menu yang disajikan oleh perbankan syariah. Sebab, pada prinsipnya bank syariah merupakan suatu aturan main atau perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk menyimpan dananya dan pembiayaan modal untuk kegiatan usaha tanpa memandang latar belakang agama.

Lembaga perbankan merupakan suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan memberikan jasa pengiriman uang. Didalam sejarah perekonomian umat islam pembiayaan modal usaha dilakukan dengan akad yang sesuai dengan syariah dan  telah menjadi tradisi umat Islam sejak zaman Rasulullah. Menurut Sofrinalia( 2012) dalam penelitiannya tentang perbankan pada zaman Rasulullah bahwa praktik-praktik seperti menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang telah lazim dilakukan sejak zaman Rasulllah, dengan demikian fungsi-fungsi utama perbankan yaitu menerima deposit,menyalurkan dana dan melakukan transfer dana menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat islam, bahkan sejak zaman Rasulullah.

Perkembangan perbankan syariah ini tentunya juga harus didukung oleh sumber daya insani yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Akan tetapi  realitas yang ada menunjukan bahwa selama ini yang terlibat dalam institusi syariah kebanyakan tidak memiliki pengalaman akademis maupun praktis dalam Islamic banking. Tentunya kondisi ini cukup mempengaruhi produktifitas dan profesionalisme perbankan syariah itu sendiri. Dan inilah memang yang harus mendapatkan perhatian dari kita semua, yakni mencetak sumber daya insani yang mampu mengamalkan ekonomi syariah diberbagai tempat. Karena system yang baik tidak mungkin dapat berjalan bila tidak didukung oleh sumber daya insani yang baik pula. Selain itu, kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses layanan perbankan syariah dan ketersediaan produk investasi syariah tidak akan optimal tanpa promosi dan edukasi yang memadai tentang lembaga keuangan syariah.

Perbankkan syariah tentunya berbeda dengan perbangkan konvensional, hal ini dikarenakan bank konvensional lebih mementingkan kepentingan pemilik dana (Deposan) dengan dasar memperoleh imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi. Dalam hal ini Perbankan konvensional terbagi atas bank umum konvensional dan bank perkreditan rakyat. Menurut Erni Wijayanti dalam artikelnya “Asal Mula Perbankan”  bahwa sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam sejarah perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam perjalanan sejarah kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dengan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer).

Pada era modern ini, perbankan syariah telah menjadi fenomena global, termasuk dinegara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia eksistensi Perbankan Syariah secara yuridis sebenarnya telah dimulai dengan dikeluarkanya Paket  Kebijakan Desember 1983 (Pakdes 83) tentang penghapusan pagu kredit dan menyebutkan bahwa bank bebas menentukan suku bunga kredit, tabungan dan deposito. Kemudian dikeluarkan Paket Kebijakan Oktober 1988 (Pakto 88) tentang izin pendirian usaha bank baru. Kemudian secara kelembagaan dimulai dengan berdirinya PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1991 sebagai satu- satunya bank yang secara murni menerapkan prinsip syariah berupa prinsip bagi hasil dalam operasional kegiatan usahanya. Konsep ekonomi syariah diyakini menjadi “Sistem Imun” yang efektif bangi bank Muamalat Indonesia sehingga tidak terpengaruh oleh gejolak krisis ekonomi dan ternyata menarik minat pihak perbankan konvensional untuk mendirikan bank yang menggunakan system syariah. Pada tahun 1992 perbankan syariah mulai berkembang luas dan menjadi tren tahun 2004. Pada tahun 2000 bank syariah maupun bank konvensional yang membuka unit usaha syariah telah meingkat jumlahnya, sedangkan untuk BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah) sudah masih akan bertambah pada tahun-tahun berikutnya, jumalah bank syariah akan terus meningkat seiringnya dengan masuknya peran-peran ekonom baru.

Perbankan syariah saat ini telah berkembang pesat sekali sehingga tidak perlu heran ketika masih terdapat hal- hal yang sifatnya debatable. Pertanyaan tersebut meliputi apakah system yang digunakan perbankan syariah sudah benar-benar syariah?apakah SDM yang didalamnya sudah memiliki kepribadian yang syariah pula?. Menyikapi adanya pertanyaan-pertanyaan tersebut kita dapat melihat pada praktik yang sesungguhnya sehingga dapat membandingkan antara teori dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya.

 

Menanamkan Budaya Positif Keluarga

Oleh, Muh. Azhar Syafrudin, S. ThI*

Hadirnya zaman globalisasi sekarang selain memberikan peluang yang semakin beragam dan terbuka, sekaligus membawa berbagai efek negatif yang luar biasa. Setiap lapisan masyarakat tak terkecuali anak-anak dan remaja terkena langsung dari dampak keterbuakaan informasi di era sekarang.

Selanjutnya, dengan adanya keterbukaan saat ini banyak terjadi pergeseran terutama dalam aspek moralitas yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karenanya, kaum remaja dituntut menjadi lebih kreatif dan aktif didalam mengeksplorasi potensi dirinya. Lembaga pendidikan pun dituntut untuk tidak menggunakan metode pendidikan yang bersifat transfer pengetahuan saja.

Sayangnya, jiwa pencarian terhadap hal-hal baru bagi kaum remaja yang demikian besar, selama ini kurang menjadi perhatian serius bagi kita. Padahal, dengan ketiadaan pengarahan yang baik oleh lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat) sangat besar kemungkinannya, kaum remaja terpengaruh dengan berbagai informasi yang berkategori negatif dan menyesatkan.

Pergaulan bebas adalah contoh paling gamblang dalam konteks ini. Sangat mudah kita menyaksikan perilaku remaja yang menjurus kedalam pergaulan tanpa batas dalam realitas sehari-hari. Padahal perilaku demikian sangat bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita, baik secara sosial maupun berdasar pada nilai-nilai keagamaan (Islam).

Bahkan kita sudah sangat sering membaca berbagai laporan dan informasi mengenai perilaku free sex dikalangan remaja kita. Ya! Perilaku yang demikian sekarang merupakan bagian dari problem yang menggejala dan meningkat intensitasnya dikalangan remaja kita.

Sekolah pun terkena imbasnya. Lembaga yang dianggap menjadi benteng utama dalam penanaman nilai-nilai karakter kini mulai dipertanyakan efektifitasnya. Tentu, karakter disini, menggunakan pengertian Erie Sudewo (2011) adalah kumpulan dari tingkah laku baik dari seorang anak manusia, yang Ia sangat berbeda dengan tabiat, sebagai cerminan tingkah laku yang buruk.

Bahkan, saat ini sekolah-sekolah yang ada ditengarai justru dianggap sebagai salah satu tempat yang paling mudah untuk terjadinya pengaruh buruk diantara remaja kita. Sebab, sehari-hari remaja kita dalam bagian waktu kehidupannya untuk tumbuh dan berkembang berada dilingkungan sekolahnya.

Gejala apakah gambaran seperti itu, apakah itu sebuah fenomena yang umum, atau hanya terjadi di beberapa sekolah. Padahal, setiap sekolah pasti sudah sedemikian rupa membuat peraturan dalam berbagai hal, mulai dari model berpakaian hingga tata pergaulan diantara mereka. Apalagi jika diketahui sampai melakukan perbuatan menyimpang, seperti free sex, narkoba, miras, dsb. Memang perlu penelitian lebih lanjut, untuk mengetahui apakah hal itu sudah menjadi budaya yang umum dikalangan remaja.

Tetapi, “desas-desus” kejadian yang sama, di hampir seluruh sekolah yang ada memberikan informasi, untuk sementara, keumuman peristiwa yang demikian. Benar ! Pergaulan bebas dan free sex adalah satu realitas yang menjadi “tradisi” baru pada sebagian remaja kita. Nampaknya perlu keprihatinan bersama, diseluruh lini kehidupan masyarakat, jika memang kita memandang pergaulan bebas dan free sex sebagai salah satu penyakit sosial yang merongrong etika atau norma-norma, baik norma adat istiadat ataupun norma agama.

Sebab, setiap sekolah tentunya sangat sadar bahwa pemberian benteng-benteng etika itu tidaklah mungkin hanya diserahkan kepada sekolah saja. Harus ada peran yang komplementer dari seluruh strata kehidupan masyarakat, utamanya pada ligkungan keluarga. Keluarga adalah tempat penyadaran inti dalam proses-poses tumbuh-kembangnya sang remaja, untuk menumbuhkan jiwa dan pribadi yang dewasa, bertanggungjawab dan “ketat” memegang etika yang berlaku disekitar dirinya, khususnya norma agama.

Tanpa perhatian keluarga (orang tua ataupun saudara) yang kualitatif dan dalam kadar tertentu secara kuantitatif, mungkin cita-cita tersebut menjadi sulit. Sungguh berat memang, tugas untuk mendewasakan diri remaja, hingga menumbuhkan rasa tanggungjawab sosialnya terhadap lingkungan sekitarnya.

Budaya positif

Disitulah letak pentingnya peran keluarga, dalam kaitannya untuk menumbuhkan pribadi remaja, menjadi institusi yang mampu membentengi arus-arus negatif yang sangat kuat dan muncul dari luar, serta menantang etika yang selama ini memagari pola kehidupan sosial dimasyarakat kita. Arus konsumerisme dan populerisme yang merupakan imbas dari proses dehumanisasi, tanpa disadari oleh kita, telah menimpa sendi-sendi sosial masyarakat.

Jika berbicara sedikit teoritik, jangankan individu-individu remaja, bangsa-bangsa besar yang menganut ideologi tertentu yang sangat berlawanan dengan kapitalisme global dengan segala derivasi dan efeknya yang “sangat manusiawi”, semacam marxisme, tidak mampu bertahan.

Benteng-benteng yang dibangun oleh ideologi-iodeologi yang pseudo agama tersebut telah ambruk diterjang globalisasi-kapitalisme yang salah satu efek ikutannya adalah budaya konsumerisme, polpularisme, dsb. Dan budaya detailnya lagi, diantaranya adalah pergaulan bebas dan free sex sebagai ekspresi liberalisme dalam tingkah laku. Oleh karenanya, keluarga harus memiliki budaya-budaya positif sebagai wujud ekspresi dari proses-proses pendidikan pewarisan nilai-nilai yang dianut secara umum oleh masyarakat kita, yang dalam banyak hal, berbanding terbalik dengan nilai-nilai dan kebudayaan yang dianut masyarakat Barat (Amerika-Eropa), sebagai pencetus individualisme dan liberalisme.

Banyak sekali sebenarnya, hal-hal yang jika dilihat dengan mata sebagai sesuatu yang sepele, tetapi jika  telah menjadi kebudayaan dalam keluarga, mampu dengan sangat tepat (kualitatif), membina pribadi remaja menjadi pribadi yang dewasa, hangat dan terbuka. Sebagai contoh ringan saja, berdasar pengamatan penulis, siswa-siswi yang berangkat sekolah diantar oleh keluarganya, khususnya orang tua dan nanti saat pulangnya dijemput kembali (walau terkadang ada yang hanya diantar ayah/ ibu dan pulang dengan kendaraan umum), memiliki kepribadian yang sangat berbeda dengan teman-temannya yang tidak pernah diantar jemput. Khususnya, pada sisi kehangatan, kemantapan dan keterbukaan bertukar pikiran.

Mereka, yang walaupun hanya memiliki budaya-budaya ringan saja, tapi berkualitas seperti diatas (biasanya ditambah dengan mencium tangan), lebih memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi dibanding dengan teman-temannya. Ceria, mantap belajar, vokal (terbuka) dan tetap masih ada sisi-sisi keremajaannya yang wajar. Sehingga, di sekolah pun mereka adalah remaja-remaja yang berbeda, penuh integritas dan mampu bersosialisasi dengan baik sesuai batas-batas kewajarannya sebagai seorang remaja.

Berbeda dengan para remaja yang tidak pernah diantar-jemput orangtuanya, yang dalam satu sudut pandang berbeda, dengan temannya yang punya budaya positif itu. Mungkin pengamatan terhadap satu kebiasaan ini sangat simplistik dan tidak dapat dijadikan argumen adanya hubungan, antara “antar-jemput” ke sekolah, beserta tradisi cium-tangan, dengan tumbuh kembang kepribadian remaja yang memiliki watak dasar “pencarian dan penjelajahan.”

Akan tetapi, penulis yakin, orang tua yang mengantar dan menjemput anak-anaknya memiliki budaya positif lainnya, sebagai dasar dimilikinya rasa tanggungjawab untuk “sekedar” mendampingi anak-anaknya ke sekolah. Dapat diyakini, orang tua seperti ini adalah orang tua yang hangat, terbuka dan justru memiliki rasa kepercayaan yang tinggi terhadap anak-anaknya yang masih remaja itu. Oleh karena itu, kenapa tidak kita tumbuh-kembangkan sebanyak-banyaknya budaya positif seperti itu dirumah kita, yang, walaupun “sepele” tapi berkualitas dan ternyata mampu menumpuk batu bata benteng pertahanan moral sang anak.

  • Muh. Azhar Syafrudin, S. ThI adalah Koordinator Lembaga Studi dan Pengamalan Islam dan Staff Humas di STIE Muhammadiyah Cilacap.

 

page contents