Menguatkan Rasa Cinta terhadap Al-Qur’an (Bagian 2)


Kembali ke Bagian 1

الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang insya Allah senantiasa dilindungi-Nya,
Kemudian, jamaah yang berbahagia, selain merasakan kebahagiaan dalam suasana ‘Idul Fithri yang agung pada hari ini, sebenarnya pada sisi yang lain dari diri kita juga merasakan kesedihan yang mendalam, yakni kita telah ditinggalkan oleh bulan Ramadhan yang penuh berkah dan kemuliaan itu. Apalagi ditambah demikian banyaknya problematika yang menimpa umat Islam di seluruh dunia ini (do’a tulus kami haturkan, semoga Allah Ta’ala menerima puasa dan amalan lainnya yang telah jamaah dan umat Islam semuanya lakukan pada bulan kemulyaan tersebut, serta mengumpulkan kita di jannah-Nya kelak, amin).

Tetapi, jamaah yang berbahagia, jangan sampai Ramadhan yang begitu istimewa tersebut meninggalkan kita tanpa kesan sama sekali. Bukankah kita telah diajarkan banyak hal pada bulan tersebut. Terutama pelajaran bahwa hakekat kita hidup dan beramal di dunia ini hanya terarah pada satu visi saja, yakni pengabdian yang total dan menyeluruh hanya kepada Allah Ta’ala semata (Adz-Dzariat/51: 56).

Bulan Ramadhan telah menempa kita dengan banyaknya amalan-amalan ibadah, yang biasanya secara kuantitas atau kualitas kurang menjadi perhatian kita. Di bulan tersebut, jamaah yang berbahagia, kita tiba-tiba menjadi mampu melakukannya bahkan dengan kadar yang dapat dikatakan sulit untuk dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Beberapa contohnya antara lain: shalat wajib yang menjadi rajin berjamaah; qiyamullail setiap hari; sikap dermawan yang semakin meningkat; puasa terus menerus sebulan penuh; menghadiri atau mendengarkan pengajian setiap hari; menjaga lisan-pandangan dan anggota tubuh yang lain dari yang diharamkan-Nya; berdzikir dengan kalimat thayyibah setiap saat serta masih banyak amalan lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini, termasuk amalan yang akan menjadi nasehat pokok dalam khutbah kali ini, yakni tilawah atau tadabbur Al-Qur’an.

الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang semoga dilapangkan rizkinya oleh Allah Ta’ala,
Al-Qur’an, beserta Al-Hadis tentunya, merupakan satu-satunya pedoman yang dapat membuat kita hidup berbahagia, baik di dunia ini terlebih di akhirat nantinya. Oleh karenanya, khatib melalui nasehat dalam khutbah kali ini ingin menekankan kepada jamaah semuanya, termasuk terhadap diri khatib sendiri, bahwa bercengkrama dengan Al-Qur’an haruslah menjadi kebiasaan kita sehari-hari, supaya ia dapat menjadi pelita kita dalam mengarungi hidup ini. Bukan bisikan setan (Fatir/35: 6), dorongan hawa nafsu (Yusuf/12: 53) dan (atau) tradisi orang kebanyakan yang tidak memiliki dasar syar’inya (Al-An’am/6: 116).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ajakan khatib kali ini, yakni untuk mempertahankan kedekatan dengan Al-Qur’an bukan tanpa dasar sama sekali. Bahkan Allah Ta’ala sendiri telah mengemukakan hal ini. Dalam Al-Qur’an yang mulia Ia menegaskan hanya Kalam-Nya saja yang dapat menjadi pedoman dengan penetapan sebagai berikut,

إِنَّ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَہۡدِى لِلَّتِى هِىَ أَقۡوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرً۬ا كَبِيرً۬ا (٩

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Israa’/17: 9).

Demikian jamaah yang berbahagia, Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa satu-satunya yang dibenarkan dihadapan-Nya untuk menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupan dunia ini hanyalah Firman-Nya, yakni Al-Qur’an. Ia telah dijadikan oleh-Nya untuk menjadi petunjuk kepada cahaya yang hakiki dan kehidupan yang hakiki pula.

Ya! Jamaah yang berbahagia. Allah Ta’ala telah menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai cahaya dan ruh (sumber kehidupan) dalam melalui perjalanan kehidupan di muka bumi ini. Dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syuura (42) ayat ke-52 Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan dengan kalimat-Nya,

وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا‌ۚ وَإِنَّكَ لَتَہۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (٥٢

“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Jamaah yang berbahagia, ayat tersebut juga menjadi bukti bahwa setiap manusia yang tidak mau berdekatan dengan Al-Qur’an serta menjadikannya pedoman bagi kehidupannya akan berjalan di muka bumi ini dengan gontai dan sesat. Bayangkan saja, seseorang mengarungi kehidupan yang keras ini tanpa ruh dan cahaya petunjuk. Bagaikan, maaf, mayat hidup yang berjalan ditengah kegelapan yang pekat tanpa setitik cahaya sedikitpun berada di tangannya.

Rasulullah Muhammad shallu’alaih juga menegaskan tentang fungsi Al-Qur’an sebagai satu-satunya petunjuk menuju jalan yang lurus tersebut sebagaimana yang terdapat dalam sabdanya,

تركت فيكم أمرين لن تضلّوا ما تمسّكتم بهما كتاب الله و سنة نبيّه

“Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya” (HR. Malik).

Oleh karenanya, jamaah shalat ‘Idul Fithri yang dimuliakan Allah Ta’ala. Mari kita tingkatkan lagi kedekatan kita dengan senantiasa bercengkrama dengan Al-Qur’an yang mulia. Carilah jawaban seluruh problematika kehidupan kita di dalamnya. Agar kehidupan kita diberkahi dan senantiasa lurus jalannya. Tekunkan diri kita dengan seluruh aktivitas yang dituntunkan oleh syari’ah terhadap Al-Qur’an. Mulai dari membaca, memahami isinya, menyimak penjelasan para ahli Al-Qur’an, mengahafalkan lafadz-lafadznya, sampai berusaha mewujudkan kandungan-kandungannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk tertinggi dari aktivitas bercengkrama dengan Al-Qur’an.

Insya Allah, dengan menekunkan diri dalam aktivitas yang demikian kita akan mendapatkan keberkahan yang berlimpah ruah. Sebab, siapapun yang berdekatan dengannya akan diberikan kemuliaan yang besar sebagai balasannya. Sebaliknya, siapapun yang menjauhinya, hanya kehinaan yang menyedihkan yang akan didapatnya. Mengenai hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنّ الله يرفع بهذا الكتاب أقواما و يضع به آخرين

“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seseorang dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan seseorang yang lainnya dengannya pula” (HR. Muslim).

Demikian jamaah, betapa mulianya Al-Qur’an, sehingga segala sesuatu yang disandingkan dengannya akan menjadi mulia juga. Contohnya, jamaah yang berbahagia: Bulan Ramadlan menjadi bulan spesial yang penuh keberkahan disebabkan pada bulan tersebutlah Al-Qur’an Al-Karim diturunkan; Malam lailatul qadar disebut sebagai malam kemuliaan disebabkan pada malam itulah Al-Qur’an, lebih tepatnya diturunkan; Malaikat jibril menjadi malaikat yang paling mulia juga disebabkan dialah yang menyampaikan Al-Qur’an pada nabi pilihan-Nya yaitu nabi Muhammad shallu’alaih; Bahkan kita juga menyaksikan dua buah kota istimewa yakni kota makkah dan madinah menjadi mulia karena disanalah kota diturunkannya Al-Qur’an. Para sahabat pun sebenarnya menjadi mulia juga disebabkan pengagungannya yang demikian tinggi terhadap Al-Qur’an hingga mencapai kadar yang susah ditandingi semangatnya.

Untuk lebih memperkuat lagi argumen tersebut, yakni bahwa seseorang yang ingin meraih kemuliaan disisi Allah Ta’ala hanya bisa diraih dengan berdekatan kepada Al-Qur’an, khatib bawakan satu hadis lagi untuk mendukung penjelasannya. Rasulullah shallu’alaih bersabda yang maknanya,

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah, harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah korma, tidak beraroma tapi manis rasanya. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti buah raihanah, enak baunya tapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah handzalah, tidak beraroma dan pahit rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan secara tersirat bahwa, bagi siapapun seorang muslim yang membaca ayat-ayat-Nya akan mendapatkan derajat yang tinggi dimata Allah Ta’ala. Belum lagi jika kita berusaha memahami dan mengamalkan kandungan dari ayat-ayat-Nya tersebut. Tentu akan semakin bertambah kemuliaan diri kita dimata Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sudah semestinya setiap orang yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya hidupnya tidak akan terlunta dan dibiarkan terseok dalam kesusahan hidup, insya Allah.

Lanjut Ke Bagian 3

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *