eid mubarak | STIE Muhammadiyah Cilacap | STIE Muhammadiyah Cilacap

Tag Archives: eid mubarak

Menguatkan Rasa Cinta terhadap Al-Qur’an (Bagian 1)

(Khutbah ‘Idul Fithri)
Oleh
Muh. Azhar Syafrudin
(STIE Muhammadiyah Cilacap)

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
idul fithri .jpg
الله أكبر الله أكبر لاإله إلا الله و الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah shalat ‘Idul Fithri rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji serta syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita, sehingga pada pagi hari yang berbahagia ini, izin dari-Nya diturunkan pada kita. Udara yang segar, hempasan angin basah yang sepoi-sepoi, menembus tulang belulang hingga menusuk sumsum kita, terasa semakin menambah kedamaian suasana ‘Idul Fithri kali ini. Peristiwa alam seperti apapun adalah kehendak-Nya, yang tidak terdapat kesia-siaan padanya. Termasuk didalamnya dengan penciptaan alam beserta seluruh isinya.

Bahkan, seandainya jika direnungi lebih dalam, justru hal ini dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wata’ala buat manusia seluruhnya. Yakni, bagi orang-orang yang mau memikirkannya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya yang terdapat dalam surat Ali-‘Imran (3) ayat 190 dan 191, Ibrahim (14): 32 dan Al-Qamar (54): 49. Misalkan seperti yang terdapat dalam surat Ali-‘Imran ayat 190-191 tersebut yang menjelaskan,

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ(١٩١

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Berikutnya, jamaah shalat ‘Idul Fithri yang berbahagia, kita juga sudah seharusnya menyadari bahwa sejatinya Allah Subhanahu Wata’ala telah mencurahkan kasih sayang-Nya dengan berlimpah kepada kita. Kasih sayang yang berwujud berbagai nikmat tersebut terhampar luas dari setiap apa yang ada dan menjadi bagian dari kehidupan kita, mulai dari yang sifatnya fisik (jism/ jawarih) sampai yang sifatnya non fisik (ruhani). Kemampuan fisik seperti beraktifitas, menghirup udara dan kesehatan diri merupakan contoh nikmat-Nya dari sisi fisik kita. Sedangkan dari sisi spiritual diantaranya adalah kemampuan memikirkan sesuatu atau berkontemplasi serta, terutama, nikmat beriman kepada-Nya sebagai nikmat yang paling sempurna.

Ya! Jamaah yang berbahagia, sesungguhnya tanpa iman yang Allah Ta’ala karuniakan kepada kita, seluruh nikmat yang ada menjadi tidak berarti sama sekali. Sebab, dialah yang menjadi penentu kebahagiaan kita di dunia ataupun (terutama) diakhirat nanti, insya Allah. Imanlah yang menjadi pembeda dari setiap manusia. Dengannya kita menjadi tahu perbedaan antara yang haq (benar) dan bathil (salah), antara jalan lurus yang diridlai-Nya dan jalan sesat yang dimurkai-Nya. Dengan itu pulalah, jamaah ‘Idul Fithri yang berbahagia, Allah Ta’ala memberikan perbedaaan kedudukan kepada hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an dengan nada bertanya menyebutkan dengan gamblang mengenai pernyataan ini:

أَفَمَن يَمۡشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦۤ أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (٢٢

“Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus” (Al-Mulk/67:22).

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang insya Allah disayangi-Nya,
Hanya saja jamaah, sebagai manusia kita sering lupa terhadap beragam nikmat dan karunia Allah Ta’ala tersebut, sehingga kita senantiasa mengeluh dengan problematika kehidupan kita. Keadaan ini sering menghinggapi kita baik secara sadar ataupun tidak sadar. Allah Subhanahu Wata’ala sendiri juga mengemukakan hal ini, yakni sifat mengeluh merupakan tabiat dasar kita sebagai seorang manusia. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’aarij (70) ayat 19-20, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعً۬ا (٢٠ ۞

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”

Padahal jika kita melihat ketentuannya-Nya juga, setiap manusia pasti akan merasakan ujian ataupun cobaan dalam mengarungi kehidupannya di dunia yang fana ini. Tetapi ujian tersebut, Jamaah yang berbahagia, jika dibandingkan dengan berbagai nikmat-Nya hanyalah sedikit saja. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang menjadi penegas akan hal ini,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah/ 2: 155).

Oleh karenanya, marilah kita menjadi seorang muslim yang senantiasa menyadari bahwa nikmat dari Allah Ta’ala hakekatnya sangat banyak. Sehingga, begitu banyak nikmat-Nya tersebut, seorang manusia tidak akan sanggup menghitungnya. Al-Qur’an surat An-Nahl (16) ayat ke-18 memberikan penjelasan:


وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (١٨

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jamaah yang berbahagia. Jika kita memikirkan ayat yang telah disebutkan, seharusnya kita juga semakin sadar bahwa, segala kelebihan dan kemudahan yang kita rasakan sekarang tidak lain hanya dikarenakan kasih sayang-Nya yang begitu melimpah. Tanpa santunan dari Allah Ta’ala, manusia tidak mungkin mampu untuk bertahan hidup. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mengenai hal ini dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl/ 16 ayat ke-53 yang menyebutkan:


وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٍ۬ فَمِنَ ٱللَّهِ‌ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ (٥٣

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Demikian, penegasan Allah Subhanahu Wata’ala tersebut dengan gamblang menunjukkan bahwa segala yang menjadi milik kita, beserta segala kemudahan yang sedang kita rasakan hanyalah dari Allah Ta’ala. Selanjutnya, apabila kita merasakan kesulitan dalam mengarungi kehidupan, kita juga memohon kepada-Nya untuk diberikan kemudahan dan keluar dari kesulitan itu.

Lanjut Ke Bagian 2

page contents